Bolehkah Berqurban Untuk Orang Lain Atau Untuk Mayit?

image Assalamualaikum wr wb
Ustaz, saya sempat mendengarkan kajian yang menuturkan sebenarnya tak boleh berkurban terhadap nama mayit, selain almarhum sempat berwasiat. Lantas, bagaimana dengan seorang anak yang berkurban satu ekor sapi yang ditujukan buat dirinya sendiri, istrinya, satu orang anak, almarhumah ibunya, almarhum bapaknya, serta almarhum mertuanya lantaran ia menginginkan jadi anak saleh.

Lantaran, setahu dia, bila berkurban satu ekor kambing tak boleh dikhususkan buat satu orang yang telah almarhum, sedangkan bila satu ekor sapi boleh karena buat rame-rame, serta kalaupun kita berkurban seekor sapi buat diri sendiri juga gak apa-apa. Bagaimana hukumnya beserta perkara itu, Ustaz?
Hamba Allah

Waalaikumussalam wr wb
Syariat kurban sebenarnya ditujukan buat orang yang hidup saja, hanya bila almarhum sempat bernazar, terdapat hukum khusus yang terkait beserta nazarnya. Ibadah kurban mengandung nilai sosial yang amat  kuat dampaknya. Secara garis besar, hukum berkurban untuk orang yang telah meninggal tersebut terdapat tiga bentuk.
\
Pertama, orang yang meninggal itu bukan sebagai subjek utama ibadah kurban, hanya mengikuti kurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya, seseorang menyembelih seekor kurban untuk diri dan anggota keluarganya, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal. Dalam hal ini dibolehkan, karena Rasulullah berkurban untuk diri dan ahli baitnya, dan di antara mereka ada yang telah wafat.
Dalam hadis Aisyah disebutkan, "Sesungguhnya Rasul meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai kurban. Kemudian, beliau berkata kepada Aisyah, "Wahai Aisyah, bawakan aku sebilah pisau, tajamkanlah mata pisaunya dengan batu." Aisyah pun mengerjakannya. Selanjutnya, Nabi mengambil pisau itu dan menghampiri seekor domba, lalu menidurkan dan menyembelihnya sambil membaca, "Bismillah, wahai Allah! Terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad,' kemudian menyembelihnya." (HR Muslim). 

Kedua, menyembelih kurban untuk orang yang meninggal dan pernah bernazar untuk berkurban. Dalam hal ini para ahli waris almarhum wajib menunaikannya walaupun diri mereka belum pernah melakukan penyembelihan kurban untuk diri mereka sendiri. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sa'ad bin Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah dan berkata, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia masih memiliki tanggungan nazar, namun tidak sempat berwasiat." Maka Rasulullah bersabda, "Tunaikanlah untuknya." (HR Abu Daud).

Ketiga, menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal bukan sebagai wasiat dan juga tidak diikutkan kepada yang hidup, tujuannya sebagai sedekah terpisah dari yang hidup.

Dalam hal ini dibolehkan, bukan sebagai kurban, tetapi sedekah semata. Ibnu Taimiyah berkata, "Diperbolehkan menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperbolehkan haji dan sedekah untuk orang yang sudah meninggal." Ini seperti yang dikerjakan Rasulullah pada poin pertama di atas. Wallahu a'lam bish shawab.

Oleh: Ustadz Bachtiar Nasir

Post a Comment