Misteri Kunci Sejarah Arab Purba Dari Batu Lukis

batu tulis Arab, misteri yang belum terpecahkan Arab Saudi merupakan salah satu wilayah yang mempunyai banyak situs batu lukis yang sayangnya tak diketahui mengenai sejarah pembuatan dan asal-usulnya.

Lady Annel Blunt bersama suaminya Wilfred kecewa berat ketika berkunjung ke oasis Jubbah digurun Nafud, wilayah Hail, sekitar 350 kilometer sebelah utara Riyadh, pada 1879. Di dataran bekas danau itu, kedua orang Barat pertama yang berkunjung ke pedalaman Kerajaan Arab Saudi itu hanya menemukan bongkahan batu-batu besar. Mereka memang menemukan batu yang tampaknya pernah dipahat manusia dengan pola berbentuk rusa gazelle yang sangat sederhana. Seperti banyak penjelajah Eropa abad ke-19 lainnya, pasangan itu berburu tulisan kuno, bukan lukisan di batu yang tiada arti.

Bukan salah Blunt bila mengabaikan peninggalan sejarah seperti lukisan di batu itu di Arab Saudi itu.

Situs batu lukis seperti yang ditemukan Blunt banyak ditemukan di berbagai negara. Namun, situs batu lukis di Arab Saudi tidak masyhur seperti situs batu lukis di lain tempat. Departemen Seni Prasejarah dan Sejarah Universitas Cambridge Inggris pada 1998 bahkan tidak menyebutkan Arab Saudi dalam peta situs batu lukis prasejarah.

Arkeolog Southwest Missouri State University Amerika Serikat Juris Zarins mengatakan, situs batu lukis di Arab Saudi tidak terkenal karena adanya anggapan bahwa gurun tidak memiliki apa-apa. ‘’Para peneliti sering kali memandang remeh gurun, bahkan dahulu orang-orang membenci gurun. Hal ini terbawa hingga dunia modern ketika sejarah ditulis oleh mereka yang menetap, yang dianggap beradab, bukan mereka yang tinggal nomaden di padang gurun,’’ kata Zarins seperti dikutip Saudi Aramco.

Orang dahulu memang membenci gurun. Ketika Romawi dan Persia berseteru selama ratusan tahun, wilayah gurun pasir luas di Semenanjung Arabia tak pernah di klaim oleh kedua kekuatan adi kuasa dunia kuno itu. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya pasir dan sengatan matahari yang tak mungkin mendukung pembangunan sebuah peradaban.

Menurut Zarins, situs Jubbah yang pernah diabaikan Blunt sebenarnya adalah satu dari dua situs besar batu lukis yang ada di seluruh Timur Tengah. Situs yang serupa dengan Jubbah berada di Afrika Utara. Arab Saudi mempunyai 13 situs kota kuno zaman pra-Islam, seperti Qaryat al-Faw, Al-Akhdood, Mada'in Saleh, Tarut, Jubbah, AlShoehtiah, Thaj, dan Dummat alJandal. Wilayah Jubbah memang dikenal memiliki banyak situs batu lukis yang dikenal sebagai rock art, istilah umum untuk setiap tanda-tanda yang sengaja dibuat manusia di atas batu untuk menunjukan aktivitas zaman awal.

Piktograf atau petroglif adalah contoh dari seni batu lukis. Piktograf adalah gambar yang dilukis di atas permukaan alami batu, sedangkan petroglif adalah sebuah gambar yang dipahat di atas permukaan alami batu dengan pahat, palu, atau alat lain. Parade gambar dan simbol yang rumit pada petroglif dilukis oleh kelompok no maden yang kemudian mengarah ke prasasti.

Seni batu lukis di Arab Saudi umumnya disebut dengan petroglif.

Selain di Jubbah, situs petroglif juga terletak di Shuwaymas. Jubbah adalah pusat dari 2.000 situs batu lukis di Arab Saudi. Awalnya, Jubbah adalah danau yang mirip dengan Rub ‘al-Khali di Arab Saudi dan Cekungan al-Jafr di Yordania, serta danau di Sahara Afrika.

Semua wilayah ini mengalami periode lembab dan kering berturut-turut pada tahap Neolitik Basah (9.000-6.000 tahun yang lalu).

Luas batu lukis di Jubbah mencakup sekitar 39 kilometer persegi.

Jubbah menyajikan batu bergambar unta, sapi bertanduk panjang, anjing, dan gambar yang menunjukan transisi dari masyarakat pemburu, pengumpul, menuju masyarakat pertanian. Terdapat ratusan ribu gambar unta dilukis di atas batu di seluruh Arab Saudi dan yang di Jubbah diyakini sebagai yang tertua. Gambar unta yang begitu banyak menunjukkan bahwa unta pertama kali berada di utara Arab Saudi, tidak di selatan seperti yang selama ini dipercaya.

Berbeda dengan Jubbah, di Shuwaymas batu lukisnya dikelilingi oleh batuan lava vulkanis hitam, bukan padang pasir. Letaknya di salah satu lembah kering selatan Hail. Si tus petroglif terbesar di Arab Saudi diberi nama Singa Shuwaymas yang ditemukan pada Maret 2001. Ketika itu, seorang Badui mengatakan kepada Mahbub Habbas al-Rasyidi, seorang guru di desa Shuwaymas, bahwa ia melihat gambar pada sebuah batu ketika sedang menggembala unta.

Mendapat laporan tersebut, Mahbub kemudian menjelajahi sisi lembah dan menemukan batu lukis bergambar singa sepanjang sekitar dua meter. Tak hanya itu, Mahbub juga menemukan batu lukis dengan gambar cheetah, hyena, anjing, sapi dengan tanduk panjang dan pendek, kijang, kuda, bagal, unta, dan burung unta, sosok manusia, dan jejak kaki.

Pendiri dan presiden International Federation of Rock Art Organizations (IFRAO) Robert Bednarik mengatakan, adanya batu lukis di Arab Saudi memiliki hubungan yang kuat dengan manusia zaman Neolitik. Bednarik melakukan kunjungan situs batu lukis pertamanya ke Shuwaymas November 2011. Apa yang dilihat Bednarik di Shuwaymas mengingatkannya pada batu lukis yang ditemukan di Mesir atau Gurun Sahara.

Menurut Bednarik, Arab Saudi merupakan salah satu situs batu lukis terbesar di dunia. `'Arab Saudi adalah satu dari empat daerah terkaya di dunia untuk seni batu lukis, selain Afrika Selatan, Australia, dan India. Penelitian batu lukis di Shuwaymas dapat menjadi penelitian yang panjang,'' kata arkeolog yang telah memublikasikan 650 artikel di 50 jurnal itu. Para arkeolog pada 1976 hingga 1977 pernah melakukan penelitian petrogif di Arab Saudi. Mereka menemukan situs petroglif di Jubbah merupakan dasar danau purba yang membentang ke arah timur dari gunung batu pasir yang disebut Jabal Um Sanaman.

Pada 1972, empat volume buku berjudul `'Batu Lukis di Tengah Arab Saudi'' diterbitkan oleh Emmanuel Anati. Emmanuel tidak pernah mengunjungi Arab Saudi. Ia menjiplak sketsa yang diperolehnya dari seorang pembuat peta, penjelajah, dan penulis Harry St John Philby. Pada musim dingin tahun 1952, selama tiga bulan Philby melakukan penelitian batu lukis dan prasasti di selatan Arab Saudi. Turut mendampinginya, seorang sarjana asal Belgia, Monseigneur Gonzague Ryckmans, sejarawan pra-Islam Jacques Ryckmans, dan fotografer batu lukis dan epigrafi Philippe Lippens.

Rombongan ekspedisi Philby kembali ke Riyadh dengan membawa 13 ribu catatan mengenai petroglif yang sebelumnya tidak diketahui dan membawa 250 gambar situs sumur kuno di Bir Himawan.
`'Sedih untuk mengatakan, hanya sebagian kecil dari pengetahuan dunia Arab yang telah diterbitkan sejauh ini,'' tulis Elizabeth Monroe dalam biografi Philby tahun 1973.

Pesan tak Terpecahkan

Bandar al-Amar mengingat 20 tahun lalu dia dan keluarganya sempat ditekan oleh aparat Pemerintah Arab Saudi agar bersedia untuk pindah dari desanya di tengah gurun tandus Jubbah ke permukiman modern di kota. Desanya itu bakal dilewati proyek jalan raya. Amar menolak imbauan itu. Ia meminta jika harus pindah maka ia harus pindah bersama dengan bebatuan Jubbah.

`'Kami bangga dengan gunung kami dan warisan yang dikandungnya. Semua bagian dari masa lalu kami yang mendalam, meskipun sejarahnya sulit untuk mengerti,'' kata al-Amar. Pengusaha kafe itu kemudian mengikuti kursus komputer untuk membuat situs internet mengenai situs arkeologi Jubbah.

Memang belum ada satu arkeolog pun yang bisa menafsirkan situs batu lukis di Arab Saudi. Enam tahun lalu, sebuah batu lukis petroglif yang paling menarik dipindahkan dengan sebuah helikopter dari situs yang berada 160 kilometer utara Najran dan menurunkannya di Museum Nasional Riyadh. Batu tersebut berbentuk piramida dengan tinggi 1,3 meter.

Lukisan pada batuan itu belum dapat dimaknai hingga saat ini. Penasihat nasional Departemen Purbakala Batu Lukis dari Arab Saudi dan Timur Tengah, Majid Khan, menjelaskan mengapa ia memilih untuk tidak menafsirkan makna dari batu lukis. ‘’Tantangan terbesar dalam batu lukis adalah kronologis peristiwa ketika gambar itu dibuat. Setelah kita mencoba menafsirkan, tetapi dengan interpres tasi pikiran kita yang sepenuhnya adalah hipotesis,’’ kata Khan.

Dia mencontohkan gambar sosok manusia pada batu lukis dengan ta ngan yang melambai. ‘’Anda mungkin mengatakan ini adalah penanda teritorial, namun mungkin orang lain mengatakan gambar seseorang sedang berdoa kepada Tuhan. Anda bisa berspekulasi apa saja tentang gambar-gambar ini,’’ kata Khan.

Dengan seperti keragaman gagasan, lanjut Khan, bagaimana bisa menafsirkan makna ribuan pengalaman manusia ribuan tahun yang lalu. Dia mengutip arkeolog Inggris, Paul Bahn, yang menyatakan bahwa dalam seni batu lukis terdapat berbagai pemikiran dan keyakinan yang mengandung pesan kepemilikan, peringatan, nasihat, mitos, dan metafora.

Sebaliknya, peneliti muda studi pascasarjana arkeologi di King Saud University Abdulrahim Hobrom mendukung penuh penelitian batu lukis karena merupakan bagian dari ajaran agama. ‘’Islam mendorong kita untuk mencari dan menemukan dunia. Nenek moyang kita menciptakan karya-karya ini dan kita perlu tahu untuk memahami mereka,’’ katanya.

Kronologi peradaban awal Jubbah diketahui dari prasasti tertua di Semenanjung Arab, yaitu Thamudic (tulisan Arab Semit kuno), yang ber asal dari masa 3.000 tahun lalu. Bila Pemerintah Arab Saudi tak hendak mengartikan batu tulis, mungkin para peneliti Barat yang bertekad akan meneliti setiap situs-situs prasejarah yang akan mengungkapnya. Diawali dengan proyek pencarian peninggalan manusia meng gunakan satelit NASA yang dilakukan Universitas Oxford, Inggris. Citra satelit menunjukkan di Jubbah terdapat bekas jaringan sungai purba yang dulu mengaliri gurun.

‘’Air menjadi indikator pergerakan permukiman manusia. Semenanjung Arabia sebenarnya kaya akan situs arkeologi dan bekas-bekas danau dan sungai. Meskipun posisinya yang penting sebagai jembatan dua benua, mengejutkan bahwa tak banyak yang diketahui mengenai masa prasejarahnya,’’ kata Direktur Arkeologi Asia Universitas Oxford Profesor Michael Petraglia, seperti di kutip Dailymail, awal Mei lalu. ■ c38 ed: rahmad budi harto

Post a Comment